#my second life#

#my second life#

Rabu, 16 Oktober 2013

HOLIDAY



INI LIBURANKU, LIBURANMU APA?

Bismillahirrohmanirrohim
Malam semakin manja. Mendekati diriku yang tengah berbahagia karena bisa mengerjakan banyak aktivitas selama musim liburan tiba. Rasanya ingin aku berbagi cerita kepada kalian tentang hal-hal yang aku lakukan selama musim liburan. Semoga kalian berkenan mendegar cerita ku..^^
Libur tlah tiba..libur tlah tiba..hore..hore!!! itulah sebaris lirik yang dinyanyikan Tasya, salah satu artis cilik yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Yapp, siapa sihh yang tidak suka datangnya musim liburan??pasti semua orang sangat menanti datangnya musim liburan kan??termasuk aku. Bercerita tentang masa musim liburan, mayoritas penduduk Indonesia ketika musim liburan tiba seperti libur nasional idul fitri mereka melakukan rutinitas mudik ke kampung halaman masing- masing. Namun, kegiatan mudik itu hampir jarang sekali dilakukan oleh keluargaku. Mereka lebih memilih waktu lain selain hari libur idul fitri untuk bisa berkunjung ke sanak saudara di kampung, alasannya karena biaya akomodasi yang digunakan akan lebih mahal dan jarak yang ditempuh pun akan sangat melelahkan.
Berbicara tentang musim liburan, liburan kali ini aku manfaatkan untuk beristirahat dirumah sambil mengisi waktu-waktu kosong ku sekedar membaca buku dan mengerjakan administrasi perangkat pembelajaran yang belum selesai aku kerjakan. Maklum lah, tahun ini adalah tahun pertama ku menjadi seorang guru di salah satu sekolah swasta di daerah Bekasi. Buku yang biasanya aku baca adalah buku-buku yang berisi tentang pengalaman hidup seseorang. Entah kenapa ketika aku membaca buku seperti itu dan aku mendalami karakter tokoh yang ada di dalam ceritanya, aku seolah bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Sehingga aku bisa belajar banyak dari pengalaman yang mereka pernah rasakan. Aahh, senangnya..^^
Ada salah satu buku yang cukup bagus (menurut saya), dimana di dalam buku itu menceritakan tentang  kisah pengabdian seorang guru yang tanpa kenal lelah rela mengorbankan harta, jiwa, dan raganya hanya untuk menghantarkan muridnya menaklukan dunia. Buku tersebut berjudul, “ guru, hidupmu hanya untuk kami” karya Edelweis Almira.




                                                            


Di dalam buku tersebut, banyak menceritakan kisah hebat para guru yang mengajar di daerah pelosok-pelosok dan pedalaman yang ada di Indonesia. Mereka sungguh luar biasa. Dedikasi yang tinggi dan semangat mereka untuk dapat mencerdaskan kehidupan anak bangsa secara merata hingga ke daerah pedalaman pun perlu di acungkan jempol dan perlu mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya. Semoga suatu saat nanti, aku dapat mengikuti jejak-jejak guru hebat seperti mereka ini. Aamiin {}

            Selain memanfaat waktu liburanku untuk membaca dan mengerjakan tugas-tugas, aku pun memanfaatkannya untuk bisa sekedar menyegarkan pikiran ku dengan berjalan-jalan bersama temanku ke Mall dan ke tempat wisata. Hal ini sengaja aku lakukan agar bisa mengurangi kejenuhan ku berada di rumah. Selain itu, hal ini aku lakukan agar  tubuhku bisa mendapatkan haq nya untuk dapat mengistirahatkan diri dari rutinitas yang ada. 
            Tempat wisata yang aku tuju untuk mengisi liburan kali ini adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kalian pasti sudah tidak asing lagi kan dengan tempat wisata ini?? Yapp, tempat ini memang menjadi tempat favorite bagi penduduk yang berada di sekitar jabodetabek untuk sekedar mengisi waktu liburannya bersama keluarga tercinta. Ada hal yang menarik. Biasanya, untuk ke TMII aku menggunakan bus tapi kali ini aku kesana dengan mengendarai motor kesayanganku. Aku kesana dengan temanku. Dia adalah seorang wanita cantik yang bernama “edas”. Aku berkenalan dengan edas melalui media sosial, itu pun teman ku yang memperkenalkan kami. Menurutku, kita mempunyai beberapa kemiripan. Mulai dari postur tubuh yang semampai (semeter tak sampai) hingga hobi kita yang sama yaitu membaca buku. heheh
            Hari itu, tepat tanggal 13 Agustus 2013 jam 11.55 kami tiba di TMII. Perjalanan kami hingga sampai ketempat tujuan +- 1 jam kemudian kami pun membeli tiket. Tempat pertama yang kami kunjungi setelahnya adalah musholah karena waktu telah menunjukkan masuk waktu sholat dzuhur. Ibadah sholat pun selesai, kemudian perjalanan kami lanjutkan. Temenku mengusulkan untuk menyewa sebuah sepeda agar tidak terlalu lelah untuk bisa menikmati berbagai wahana disana. Banyak yang berubah di tempat wisata ini. Dulu, harga untuk menyewa sepeda hanya berkisar antara 5.000 – 7.000/jam tapi saat ini harganya sudah berubah menjadi Rp 10.000/jam. Mungkin karena pengaruh kenaikan BBM, pikirku. Mulailah, kami berkeliling menyusuri beberapa anjungan rumah adat yang ada disana sambil mengabadikan moment-moment ku bersama temanku (foto-foto).
            Puas dengan bersepeda mengelili beberapa anjungan disana, kami melanjutkan perjalanan wisata kami ke Teater Imax Keong Mas. Kenapa disebut dengan ‘Keong Mas’?? karena teater itu berbentuk keong yang berwarna coklat keemasan. Keong Mas ini, dibuat atas ide dari ibu Tien Soeharto. Teater Imax Keong Mas ini merupakan salah satu bioskop 3D, jadi ketika kita memonton film-film yang diputar disana kita seolah-olah berada di tempat tersebut, Asik kan??.  Di teater Imax ini, banyak memutarkan film-film yang memuat unsur edukasi, salah satunya adalah tentang T-rax. Nah, film itu pula lah yang kami tonton disana. Pemutaran film baru di buka sekitar pukul 14.00 sedangkan kami tiba di pelataran ‘Keong Mas’ pukul 13.45. Sambil menunggu, kami pun seperti biasa mengabadikan moment-moment dengan berfoto ria sambil menikmati hiruk pikuk pengunjung yang ada disana. Yapp, waktu menunjukkan pukul 14.00, kami memasuki area teater dan mencari kursi. Di dapatilah kursi dibagian tengah, yang jaraknya tidak terlalu dekat dengan layar proyektor dan juga tidak terlalu jauh.
            Film yang berjudul “ T-rax of the creatoceus” pun dimulai. Lampu-lampu yang ada di ruangan pun, mati. Penonton hening dan kami pun mulai menikmati suguhan film yang diputarkan disana. Di film “ T-rax of the creatoceus”, kita diajak untuk mengenal hewan purbakala yang bernama Trax. Pada film tersebut diceritakan bahwa para paleontologis sedang meniliti tentang keberadaan hewan trax ini. Di film ini pun, pengunjung seolah-olah kembali ke abad masa lampau ketika makhluk hidup seperti manusia yang ada saat ini belum muncul. Hanya jenis hewan purba, seperti dinosaurus dan hewan-hewan besar yang ada. di film tersebut pun, diceritakan pula tentang keberadaan telur t-rax. Yang konon, hingga saat ini belum ada yang dapat mendukung tentang hipotesis tersebut. Diakhir cerita, ternyata hewan seperti dinosaurus dan trax pun musnah karena diakibatkan oleh adanya bencana alam seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi.
            Waktu pun tak terasa semakin berlalu, setelah puas menonton film kami melanjutkan perjalanan. Kali ini, tempat yang kami kunjungi adalah foodcourt karena efek rasa lapar yang mengelayuti perut kami. Makan pun selesai. Namun rasanya belum puas, jika kita ke tempat wisata tapi semua wahananya tidak dapat dikunjungi. Karena rasa ketidakpuasan itulah, akhirnya kami masih tetap melanjutkan perjalanan walaupun hari sudah sore.
            Tempat yang selajutnya kami kunjungi adalah museum serangga. Niat awalnya sihh, ingin mengunjungi museum air tawar namun apa daya biaya masuknya terlalu mahal (menurut kami). Di sudut museum air tawar, ada hal menarik yaitu ada beberapa anak muda yang sedang melukis wajah para pengunjung yang datang. Sempet terbesit untuk ikut dibuatkan gambar karikatur diriku, tapi aku urungkan niatku itu. Ada kebodohan yang kami lakukan saat hendak masuk ke museum serangga. Kalian tahu?? Kami salah masuk pintu. Oohh..no!!!-_-“. Jadi ketika itu, kami masuk ke salah satu ruangan. Kami heran, kenapa ruangan ini sepi sekali tak ada satu pengunjung pun yang datang. Bentuk ruangannya pun menurut saya menyeramkan dan agak misterius karena letaknya di paling belakang dan paling ujung. Langkah kaki ku pun sempat terhenti dan enggan melanjutkan perjalananku masuk ke ruangan aneh itu. Tapi, temanku yang bernama edas justru penasaran dan masuklah dia ke ruangan itu. Aku sudah mengajaknya untuk pergi meninggalkan tempat itu, tapi rasa penasaran mengalahkan segalannya. Akhirnya, masuk lah kami keruanga itu. Dan kalian tahu, ternyata kami salah masuk ruangan. Ruangan yang kami telusuri tadi adalah pintu keluar dari museum serangga. Betapa bodohnya kami. Aahh, sudahlah. -_-
Di sudut ruangan, ada sebuah papan info edukasi tentang “tomcat”. Yapp, serangga yang pernah menghebohkan dunia pertelevisian karena telah memakan korban jiwa. Di papan tersebut, di jelaskan tentang apa itu tomcat, habitatnya, siklus hidup, dan manfaatnya bagi kesehatan manusia. Setelah mendapatkan informasi ini, aku jadi mengerti ternyata serangga ‘tomcat’ ini tidak berbahaya asalkan kita mengerti bagaimana penanganannya.
           

 
                 Di museum serangga, kami melihat berbagai macam serangga yang sudah di awetkan dan tempat penyebaran serangga tersebut di wilayah Indonesia.
            Senja pun mulai menampakan keindahan pesonanya, warna merah merekah menambah ke-Maha Sempurnaa-an sang penguasa pada alam raya ini. Kami pun bergegas untuk pulang namun sebelum kami kembali ke rumah,  kami mampir ke sebuah kedai di pinggiran jalan kota bekasi untuk sejenak menikmati hangatnya kopi diwaktu malam. Betapa indahnya hidup ini, jika kita bisa menikmati segala keindahan alam raya yang telah Allah ciptakan ini. *wonderful day and i’m happy

Jumat, 21 Desember 2012

Engkaulah Wanita Sholehah itu "Di Gubukku Ada Bidadari"

by Fsi Al-Kautsar Unj on Sunday, July 31, 2011 at 6:00pm ·

"Kesahajaanmu benar-benar menggelombangkan air mataku. Melihat semburat bahagia terbit di wajahmu, kembali kurasakan tetesan bening bak kristal itu mengalir syahdu dari pelupuk mataku."

***


>>Saat itu. . .



Aku sudah mengenalmu karena memang engkau adalah tetangga dekatku. Olehku, benar-benar tak terbayang bahwa engkau kan menjadi kekasih hatiku yang terajut oleh untaian tali pernikahan. Jujur terakui, wajahmu tak terlalu cantik. Namun begitu, sulit pula bagi lidahku untuk kututurkan bahwa engkau jelek rupa. Biasa saja. Bagimu, make-up tak begitu penting. Itu kuketahui karena engkau memang tak pernah memoleskannya di wajahmu.

>>Aku dan Keputusanku…



Engkau adalah wanita sederhana. Iya, wanita sederhana, pintar, tak banyak bicara. Engkaulah wanita yang bersahaja. Terlihat dewasa, pula. Kesederhanaan dan kesahajaan yang engkau peragakan lah yang justru terasa mengusik hati ini. Benar, tak bisa kupungkiri. Tak bisa kututupi. Akhirnya, nyaliku terpercik hebat lalu menghujankan sebuah keputusan. Kupilih engkau menjadi permaisuriku.

>>Sejenak Tentangmu…




Engkau, dinda, bukanlah keturunan orang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Aku tak peduli. Raga yang terbalut kain-kain penutup aurat dan jiwa yang terpaut akhirat yang kuingini. Terlebihi terpolesi ilmu syar’i. Tekadku sudah bulat. Kupinang engkau dalam waktu dekat.

Engkau, dinda, saat itu baru lulus SMA. Tak kusangka kalau engkau menerima lamaranku dengan tangan terbuka. Bahkan untuk menerimaku, engkau pangkas keinginanmu mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu begitu menyayangkan keputusanmu karena engkau termasuk siswa yang cerdas. Aku tak tahu, mengapa engkau memilihku menjadi pangeran yang akan menduduki singgasana hatimu, dinda. Sujud syukurku pada Allah ‘azzawajallah. Alhamdulillah.

>>Percikan Bahagia di Hari Pernikahan…



Dan hari itu pun kita menikah. Terbitlah kebahagiaan yang menyelimuti sanubari. Sempurnalah mekar indah pucuk asmara. Telah tiba saatnya biduk harus berlayar di samudera kehidupan. Terhempas sudah karang-karang penantian yang bertengger di taman hati.

Adakah jalinan yang indah selain jalinan dan untaian tali pernikahan?
Adakah letupan-letupan cinta yang lebih menenteramkan hati sepasang muda-mudi selain dalam ikatan ini?
Adakah hubungan yang lebih menabung kebaikan selain hubungan sah secara syar’i?

Bak sejuknya tanah gersang yang kembali subur setelah dentuman hujan, bak cerahnya dedaunan muda yang indah menghijau bersemi, bak syahdunya kicauan burung menyambut mentari di pagi nan cerah, begitulah pula datangnya kuncup bahagia di hati.


>>Aku Begitu Kagum. . .


Semua terasa mudah dan indah, dinda. Engkaupun merasakan hal yang sama, bukan? Saat itu, usiaku 25 tahun dan engkau baru 19 tahun. Memang masih terlalu muda untuk kalangan umum namun engkau berani mengambil keputusan itu. Engkau berani mengakhiri masa lajangmu di usia dini. Dan tahukah engkau, dinda, itu membuatku semakin kagum padamu.

Dinda tersayang.


Semenjak menikah hingga saat ini, kekagumanku padamu terpupuk subur. Kudapati engkau belum pernah mengeluh tentang keadaan yang kita alami bersama. Padahal engkau sendiri tahu bahwa penghasilanku tak seberapa, kadangkala tak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Begitu sering kita harus mengikis beberapa keinginan karena kita tak sanggup menggapainya. Benar-benar tak pernah terlihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena hal itu, dinda.



>>Tetesan Air Mata di Kasur Cinta..




Masih teringatkah olehmu, dinda, saat pertama kali kita arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil? Sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tetapi engkau benar-benar membuktikan kecerdikanmu, dinda.
Seonggok pakaian kita yang masih tersimpan dalam tas usang, kau keluarkan. Engkaupun melipatnya lalu engkau tumpuk dua hingga tiga helai. Engkau kemudian mengaturnya berjejeran. Diatas barisan baju itu, engkau bentangkan jilbab lebarmu. Jadilah kasur cinta ala istriku terkasih.

Sambil menyungging senyum manismu, engkau mempersilahkan aku mengempukkan diri di kasur cinta kita. Kutatap wajah ayumu, dinda. Kufokuskan mataku memandang hitam bola matamu sambil membalasmu dengan senyumku. Beberapa detik kemudian, kurasakan getaran hebat berkecamuk di hati. Dan, dan, dan berlinanglah air mata haruku. Aku cinta. Aku cinta. Aku mencintaimu, dinda.

>>Saatnya Engkau Melahirkan..



Bersamamu, wahai permaisuri hatiku, tak terasa begitu cepat bergulirnya waktu. Dengan penuh kasih, selalu indah nan syahdu terlalui hari-hari,dinda. Kekurangan materi yang terkadang menghantui seakan-akan bukanlah beban manakala kita senantiasa menebalkan keikhlasan di hati. Denganmu, dinda, begitu banyak pelajaran yang kupetik.

Masih ingatkah ketika usia pernikahan kita beranjak setahun, saat tujuh bulan usia kehamilanmu, dinda? Aku begitu panik ketika engkau mengalami pendarahan. Tapi engkau begitu tenang tak gugup. Dari keningmu yang berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu engkau sedang menahan sakit yang luar biasa. Segera saja kubawa engkau ke bidan. Dari pemeriksaannya, itu adalah tanda-tanda bahwa engkau akan melahirkan.

Jam 12 malam, saat manusia tengah asyik terlelap, anak pertama kita lahir dengan prematur. Ah, betapa aku bahagia, dinda. Berulang kali, kukecup keningmu dengan kecupan sayang penuh mesra.

>>Segelas Air Putih..

Aku melihat wajahmu melemas. Engkau begitu lelah. Secara perlahan, kau bisiki aku dengan berkata:

“abii…, aku lapeer.”


Tersentak aku mendengarnya, dinda. Ya, seharian tadi engkau tak makan karena kesakitan sejak kemarin. Sore tadi aku hanya membeli sebungkus roti untukmu namun sudah kulahap habis karena tadi engkau tak nafsu makan. Kini tak ada roti atau jajanan lain. Mau beli, jam segini semua toko dan warung sudah tutup.

Alhamdulillah, ada segelas air putih yang dibawakan bidan. Kusuguhkan sendiri untukmu agar kemesraan kita tetap terjalin dan barangkali letihmu akan terkikis. Perlahan, engkau pun meneguknya, dinda. Tak ada tuntutan dan keluhan sedikit pun yang terlontar dari lisanmu. Engkau sungguh mengagumkan, dinda. Aku memuji Allah atas anugerah ini.
Kesahajaanmu benar-benar menggelombangkan air mataku. Melihat semburat bahagia terbit di wajahmu, kembali kurasakan tetesan bening bak kristal itu mengalir syahdu dari pelupuk mataku.  

Seiring menyusuri lembah hidungku, kurasakan air mata ini kembali menyuburkan bunga cinta di taman hati. Kupersembahkan indah mekarnya untukmu, dinda. Semerbaknya begitu harum, bukan?

Yah, bayi yang menjadi permata hati kita yan selamat dan nampak sehat telah membuatmu lupakan lapar dan dahaga.

>>Engkaulah Penyejuk Hati..




Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepuluh tahun kita bersama dalam bahtera yang penuh dengan kesederhanaan tetapi kita tak pernah lontarkan keluh. Engkau tak pernah tuntut dunia dariku, dinda. Tak pernah minta ini. Tak pernah minta itu. Beli pakaian saja mungkin tiga atau empat tahun sekali. Perhiasan? Tak pernah engkau mengenalnya. Bagimu, bisa memenuhi kebutuhan saja tanpa berhutang sudah lebih dari cukup.


Sungguh, dinda. Aku amat bahagia mengenalmu sosokmu. Aku memuji Allah atas anugerah ini. Engkaulah permata sekaligus belahan jiwa yang menyejukkan hati. Mata akan teduh memandangmu. Engkaulah sebenarnya perhiasan itu, dinda. Semoga engkau selalu tegar menemani hari-hariku hingga kita jelang negeri penuh cinta nan abadi di akhirat nanti.

***
____________
Catatan Editor:



Sejatinya, ini adalah kisah nyata yang tertera dalam buku “Bila Pernikahan Tak Seindah Impian”, penerbit Mumtaza, Solo, 2007, hal 118-122. Kepada penulis buku tersebut yaitu saudara Muhammad Albani (hafidzahullah), kami telah meminta ijin untuk menuturkan dan mengisahkan kembali sekaligus mendaur ulang bahasanya dengan tidak merubah alur kisah.

Kepada sepasang merpati dalam tulisan, semoga jalinan cinta yang terajut dalam kehalalan tersebut tetap terjaga hingga berjumpa dengan wajah Allah di surga, kelak.

Kepada para wanita, selalu kami titipkan nasehat agar merias diri dengan akhlak yang mulia dan membalutkan diri dengan ilmu syar’i. Ketahuilah wahai saudari-saudari kami bahwa salah satu dosa anda sebagai makhluk hawa, seperti yang disebutkan para ulama, adalah keengganan anda untuk menuntut ilmu dien ini. Jadikanlah wanita dalam kisah diatas sebagai salah satu ibrah untuk menapaki jenjang pernikahan. Terakhir, jadilah kalian wanita yang penuh kesahajaan dan selalu merasa cukup dalam dunia. Semoga Allah ‘azzawajalla mudahkan kalian memasuki surga-Nya.

Kepada sauadara-saudara kami, semoga kisah diatas menjadi salah satu percikan-percikan yang akan menerangi jenjang-jenjang kehidupan kita selanjutnya. Semoga Allah tabaraka wata’ala mengistiqamahkan kita di atas sunnah dan manhaj yang ditempuh para pendahulu sehingga kita mampu menjadi pribadi yang shahih berilmu nan mulia berakhlak. Kami rasakan fitnah-fitnah di akhir zaman begitu dahsyat menghantam karang keimanan.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla illa ha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.

Salam persaudaraan penuh kehangatan ukhuwah,

http://www.facebook.com/notes/karena-wanita-ingin-dimengerti/akulah-lelaki-paling-bahagia-di-gubukku-ada-bidadari/191720397529828

Maafkan Aku... Hanya Bisa Mencintaimu Dalam Diam.

by Fsi Al-Kautsar Unj on Wednesday, December 14, 2011 at 7:31pm ·
 
Aku seorang ikhwan yang miskin ilmu dan miskin harta.

Namun aku tak malu pada diriku.





Tetapi ketika aku jatuh hati pada seorang muslimah akupun tak bisa menikahinya

Karena ke belum mampuan ku menghargai fitrah itu dengan pernikahan

Aku hanya bisa menyalakan perasaanku ini dengan mengadu padaNya.

Hingga kujadikan Malam-malamku penuh dengan doa kepada Rabbku untuk kebaikannya,
Kebaikan kami jika Allah karuniakan kami bersama.



Air matapun menjadi saksi akan dalamnya perasaan suci ini untuknya.

Aku hanya bisa mencintainya dalam diam.

Hanya itu yang dapat aku lakukan.

Bukan karena aku tak berani.
Tapi karena aku takut jika doa suciku semalam menguap sia-sia karena perbuatan burukku.


Dan tahukah kamu?
Semakin hari, keinginan hati untuk menikahinya pun begitu besar
Begitu banyak godaan yang menghadangku
Namun aku tetap menjaga kesabaranku dalam mempertahankan perasaan suci yang tersimpan rapi di dasar hati ini



~~ AWAS TIPU DAYA SETAN.. BILA KITA JATUH CINTA ~~ Ketika kita jatuh cinta, dan mendambakan seseorang jadi jodoh kita. . . . Namun kita tetap diam, mengendalikan hati untuk tidak tergesa-gesa mengutarakannya, maka yang ada adalah harapan. . . Do’a kebaikan untuknya tak lupa kita panjatkan.. Semoga dia mampu menjadi hamba yang beriman.. Mengisi hari dengan kebaikan.. Semoga saja Allah mempertemukan, dan mempersatukan di saat yang tepat.. Saat dimana hanya ada perkenalan dengan cara islam yang berakhir dengan lamaran, bukan dengan hubungan bernama Pacaran. Jika Allah TIDAK menghendaki kita berjodoh dengannya kerana mungkin ada seseorang yang lebih baik dari kita untuknya, dan ada yang lebih baik dari dia untuk kita. . .itulah nilai kepasrahan. Namun.. Ketika kita jatuh cinta.. Lalu kita menjalinkan hubungan dengannya. Meskipun hanya didunia maya.. Meskipun hanya ingin mengenalnya dengan lebih lanjut.. Maka Syaitan akan ikut mengambil bahagian..... Menyiksa hatimu dengan rindu yang menggebu.. Kemudian rindu berganti sayang penuh kehangatan, tentang masa depan yang akan kita tempuhi bersama. Senda gurau dan kemesraan yang kita bina seolah terasa indah seolah tak ada yang salah. Kita tidak sadar bahawa apa yang sedang kita lakukan sekarang belum halal untuk dilakukan, dia bukan mahram kita Seolah-olah yang menciptakan kebahagiaan di dunia kita hanyalah dia Seolah-olah tanpa dia hidup kita tak kan ada Arti ..Na.. Seolah-olah tanpa dia kita kan kehilangan nyawa. Akhirnya...... Ketika perpisahan terjadi, kerana Allah tak menghendaki kita dan dengannya hidup bersama. atas nama cinta murtad pun berani dipilihnya.. Naudzubillah… Semua orang berhak mencintai dan dicintai.. Tetapi bukan cinta yang tak diredhai. Kebahagiaan yang harus dipilih seorang muslim haruslah kebahagiaan yang abadi.. Kebahagiaan yang hakiki.. Kebahagiaan yang ada disisi-Nya. Di Jannah-Nya. Maka.. Mari saling mengingatkan dalam menatapi kesabaran.. Segala sesuatu yang hendak menjauhkan kita dari-Nya hanyalah ujian.. Segala sesuatu yang hendak memaksa kita melanggar aturan-Nya hanyalah ujian.. Segala sesuatu yang hendak membuat kita mendustai Janji-Nya hanyalah ujian.. Mari mendekatkan diri pada-Nya, mari mencintai-Nya dengan sebenar-benar cinta.. Maka kita akan tahu, sesuatu yang membuatkan kita hilang kenikmatan menyembah pada-Nya akan segera engkau tinggalkan. Izinkan Kami menikah tanpa Pacaran, Dengan penuh Kesabaran.. Dengan Penuh Perjuangan, Kemenangan itu ada jadualnya, dan semua akan menjadi indah pada waktunya dengan RedhaMu.. Aamiin. ..Salam santun senyum manis..

Maafkan aku yang belum mampu menikahimu, Ukhti...
Aku sadar bahwa aku belum mampu,
Oleh karena itu status pernikahanku masih makhruh.

Akupun juga malu sama keluargamu.
Jika tak mampu memberikan kepastian kepada mereka.
Aku tak ingin membuatmu menderita karena menikah denganku.
Meskipun aku tahu bahwa mungkin saja kehidupan seperti Ali dan Fatimah sangat kau impikan.

Dan aku tak kuasa menahan air mataku.
Ketika aku tak mampu membahagiakanmu.
Maafkan aku.
Saat ini aku hanya bisa mencintaimu dalam diam.
Di derasnya aliran perasaan yang terus menuju kepada kekagumanku padamu.
Bukan karena aku tidak peduli kepadamu.
Tetapi karena aku berusaha menahan keinginan hatiku.
Ketika aku belum mampu menghargai sucinya perasaan ini dengan pernikahan.
Maafkan aku, Ukhti...
Lantunan doa untukmu selalu kupanjatkan tanpa engkau pinta..