patience isn't being passive and waiting for a miracle. Its to do everything possible to change ur situation then leave it to Allah
Tampilkan postingan dengan label My story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My story. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 11 April 2015
Sabtu, 07 Maret 2015
My Little Dee
Cerita ini berkisah tentang salah satu orang
muridku. (Lagi-lagi) aku menceritakan tentang makhluk mungil yang berada di Sekolah Alam JINGGA. Entahlah, aku senang sekali bisa menceritakan tentang
betapa uniknya mereka. My little Dee adalah murid ku di kelas SD2. Aku mulai
mengenalnya sejak ia kelas 1.
My little Dee memiliki keistimewaan yang
tidak dimiliki oleh anak-anak lain di kelasnya. Yapp, dia menderita autis
ringan. Autis adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada
seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas dan kadang-kadang
telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6 bulan. (www.wikipedia.com)
Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia
merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak
dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku
penyandang autisme. Hal yang paling menonjol bagi penderita autis adalah mereka
susah sekali untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan susah untuk dapat berkomunikasi dua arah.
My Little Dee pun seperti itu sehingga dalam
setiap kegiatan di sekolah, ia selalu di dampingi oleh seorang guru pendamping.
Kadang aku kesulitan untuk dapat mengarahkannya, karena jika My Little Dee
sudah terlalu asyik dengan dunianya sendiri orang-orang yang ada disekitarnya
pun diabaikannya begitu saja. Prrttt..*menyebalkan sekali anak itu* :)
Banyak kejadian menarik yang pernah dilakukan
oleh My Little Dee yang membuat ku selalu tersenyum. Dulu sewaktu dikelas 1, ia
pernah menggambar sesuatu di lantai kelas.
Awalnya ku pikir My Little Dee
akan menggambar baling-baling kipas angin karena memang ia suka sekali dengan
kipas angin. Namun ternyata di luar ekspetasi ia membuat lintasan lari, dan
kalian tau?? siapa yang menjadi pelarinya??mereka adalah 3 ekor siput yang ada
di sekitar kelas. Namanya juga sekolah alam, binatang-binantang yang ada di
alam pun ingin ikut belajar. Aku pun tertawa lepas melihat kejadian itu.
Sungguh kau anak yang luar biasa My Little Dee. *peluk*
Bukan hanya itu saja, pernah suatu ketika
bertepatan dengan hari jum’at. Sudah menjadi kebiasaan bagi My Little Dee bahwa
ia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu melaksanakan
sholat jum’at namun karena saat itu guru pendampingnya tidak ada, akhirnya akulah
yang membimbingnya untuk sholat tetapi bukan sholat jum’at melainkan sholat
dzuhur. Perlahan aku mulai membisikan
bacaan-bacaan sholat kepadanya, di mulai dari takbir hingga seterusnya. Namun
ada hal yang menarik. Saat itu My Little
Dee hanya mau sholat dua rakaat saja padahal aku sudah berucap kepadanya bahwa
kita akan sholat dzuhur jadi kita akan melakukan sholat sebanyak empat rakaat.
Ia pun kekeh tidak mau meneruskan sholatnya, ketika sampai di rakaat kedua
bergegaslah My Little Dee untuk salam padahal masih kurang dua rakaat lagi.
-_-“
Dengan berbagai cara aku membujuknya untuk
menambahkan dua rakaat lagi namun rasanya sulit. Senjata andalannya adalah dia
berguling-guling di lantai, jika sudah seperti itu tak banyak yang bisa ku
perbuat. Karena untuk mengangkatnya duduk sangatlah susah, maklum lah My Little
Dee memiliki badan yang gemuk. Benar-benar anak yang cerdas. ^^
Dari kisah dan kejadian yang aku alami
bersama My Little Dee, tak terbayangkan bagaimana dengan orang tua dan guru
pendampingnya yahh yang hampir setiap saat bersamanya??*mikir*. Walalupun
begitu, banyak ibroh yang aku bisa pelajari dari sosok My Little Dee. Ternyata
benar, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dan semua
yang Allah ciptakan itu memang tidak sia-sia karena pasti terkandung sebuah makna yang mendalam bagi
mereka yang mau dan mampu untuk memahaminya.
Jumat, 27 Februari 2015
Belajar Dari Sang Ksatria Bercongklak
Pagi itu, terlihat dari kejauhan suara jejak kaki
memasuki gerbang Sekolah Alam Jingga. Dengan semangat belajar yang
menggebu-gebu tetiba datanglah seorang anak laki-laki kecil berjaket merah dan
bercelana panjang warna coklat dengan menenteng tas gemblok di belakangnya. Sepintas,
aku lihat dari depan biasa saja, namun setelah anak itu menghadap ke belakang
ternyata ada yang menarik darinya. Kalian tau apa yang dia bawa??? Dia membawa sebuah
mainan tradisional yang biasa disebut “congklak” *amazing*
Masuklah anak itu ke dalam ruang kelas SD2,
sambil mengucap salam. Di letakkannya tas kemudian dia pun sholat dhuha. Setelah
selesai, dia pun mulai bercerita.
“bu, ibu tau ga hari ini aku bawa congklak”
ujar anak tersebut
“ohh ya, mana mana. Bu dewi liat.” dengan
ekspresi penasaran
“ini bu (sambil menunjukkan dengan bangga congklaknya).
Sebenarnya sihh ini punya kakak ku bu tapi aku bawa aja ke sekolah. Nanti kita
main bareng ya bu. “ katanya
“boleh. tapi kalau kamu kalah nanti kamu
harus nurut ya kalau bu dewi minta tolong”. Ucapku sambil menahan tawa
Singkat cerita tentang anak ini, dia adalah
salah seorang muridku yang bisa di bilang cerdas dan memiliki tingkat
kepercayaan diri yang luar biasa. Namun, terkadang tempramental. Mudah sekali
berkelahi dengan temannya, susah mendengarkan instruksi dari gurunya, egois,
dan sering pula membuat suasana kelas menjadi gaduh karena ulahnya TAPI dibalik
itu semua, dia cengeng. Iya cengeng *apa mungkin efek karena dia laki-laki* --“
Jam istirahat pun berbunyi, dia pun mengeluarkan
congklaknya. Datanglah teman-teman dari kelas lain. Dia pun mengajak temannya
untuk adu congklak dengannya. Bukan hanya temannya saja, dia pun mengajak
kepala sekolah SD Jingga untuk adu congklak dengannya. *ini baru keren* :)
Masya Allah, disaat anak-anak lain
keranjingan gadget dengan berbagai aplikasi yang ditawarkan ternyata masih ada
anak sekolah alam yang mau membudayakan permainan tradisional bernama ‘congklak’
dan yang menariknya lagi yang memainkannya adalah seorang anak laki-laki, Why not??.
Menurut ku banyak hal yang bisa dipelajari dari permainan sederhana bernama
congklak. Diantaranya, tanpa anak sadari bermain congklak dapat melatih
ketelitian anak dalam berhitung, anak belajar tentang bagaimana cara mengatur
strategi, dan dengan bermain congklak pun dapat melatih mental bersaing anak. Sehingga
kelak diharapkan ketika anak tersebut dewasa ia bisa memiliki jiwa petarung
yang siap menerima kemenangan dan kekalahan. Abaikan ucapkan kampungan, ndeso,
atau whatever lah. So, jangan malu untuk membudayakan budaya tradisional. Kalau
bukan kita, siapa lagi yang nantinya akan melestarikan kebudayaan bangsa ini.
Langganan:
Postingan (Atom)


